Langsung ke konten utama

Postingan

ANGGAPLAH

Heran, orang berbicara keras-keras pada saat orang lain beranjak tidur. Heran, orang membuka knalpot kendaraannya keras-keras saat orang jenuh mendengar suara bising. Orang memperdengarkan alunan bunyi musik keras-keras di antara orang yang tak berselera musik. Dan Orang berpikir keras untuk membunuh orang lain dengan berbagai alasan emosional tak tertahankan untuk sebuah puncak kepuasan sesaat. Para petugas ketertiban kewalahan menjalankan tugas perintah komandan lapangan. Mereka langsung berhadapan dengan rakyat yang mengejar peluang tetap hidup di tengah fluktuasi zaman yang tak mereka pahami berpihak kepada siapa. Sirine meraung-raung memecah kemacetan di jalanan. Potensi kebakaran menyebar ke berbagai sudut permukiman dan lahan kering musim kemarau. Ledakan petasan mengejutkan suasana hidup tenang. Dan tiba-tiba bencana gempa kembali melanda, meluluhlantakkan rumah-rumah, pekarangan, instalasi, melumat tubuh lemah, mengubur kenangan indah kehidupan. Matahari berselubung asap. Jadw...

KECEPATAN MEMBACA ANGIN

Orang berbondong-bondong memacu kendaraannya di jalan raya, di jalan tol, di jalan kampung, di jalan setapak karena merasa telah membayar pajak kepada negara. Mereka berupaya secepat mungkin dapat sampai pada tujuan yang diinginkan, walaupun mengabaikan keselamatan dan kenyamanan penggunanya sendiri. Orang lupa pada situasi di jalan yang ramai, orang lupa pada batas kecepatan yang diperbolehkan, orang lupa pada anak yang tiba-tiba menyeberang, orang lupa pada lubang galiannya sendiri bernama liang lahat, rumah kematian di ujung kecepatan yang mampu ditempuhnya dengan gagah berani. Angin bertiup semilir di atas permukaan laut yang tenang, membentang gundukan bukit-bukit jauh tujuan penyeberangan selanjutnya. Nakhoda menuntun kapal dengan navigasi panduan standar keselamatan. Dan ombak menepi ke arah buritan, meninggalkan sepi di dermaga keberangkatan. Percakapan para nelayan yang tak pernah berakhir sebelum kembali membawa tangkapan ikan dan kulit legam. Pantai itu masih mengundang pela...

KOMUNITAS KERE(N)

Judul-judul di Kompas beberapa kali bergaya seperti judul tulisan saya ini. Saya termasuk pengekor aja dulu seperti teori imitation yang saya peroleh di bangku kuliah sebelum punya gaya sendiri tirulah idolamu, biarlah sementara jadi idiot kereatif. Walau harus merancang budget ketat tiap bulan dari gaji yang pas-pasan, membaca informasi aktual lewat media massa wajib hukum hariannya. Ini hidup, Bung! Trend masyarakat dalam negeri maupun luar negeri perlu dilihat, dipahami, meski tak harus diikuti sakelijk, mentah, dan halal. Fatwanya dibuat sendiri dengan disiplin ilmu kanuragan, kebatinan, dan kantong rumah tangga. Sederhana: Biarlah orang membeli petasan, rokok, ijazah, pekerjaan, jabatan, ktp, perempuan, sebagai jalan pinta(r/s); dan saya membeli koran sepulang kerja ngambilnya(meski resmi berlangganan pada tukang lapak koran pinggir jalan). Dengan begitu saya kenal banyak pengecer koran di perempatan lampu jalan, tukang parkir toko sebelah, dan pembeli koran bekas yang datang ke ...

ROMEO AND JULIET VERSI PALEMBANG

Kayaknya kisah klasik shakespeare, sang maestro sastra puitik London itu gaungnya universal ya. Romantika sepasang muda-mudi yang fall in love-nya begitu buta itu tak berujung kegembiraan. Mereka harus berakhir tragis sebelum usia lanjut. Mungkin kita di Indonesia perlu membuat versi cerita yang lebih membahagiakan kali ya biar ada amanat yang berpengharapan hidup sejahtera sampai akhir menutup mata... mati juga ujungnya. Koran minggu ini menguak peristiwa tragis dari palembang. Korban pertamanya selalu perempuan, seperti skenario klasik aja. Bedanya settingnya pola keluarga modern, bukan kerajaan yang feodal, monarki yang mempertahankan tradisi bibit, bobot, bebet secara kaku. Dalam sastra Indonesia sendiri dikenal cerita Sitti Nurbaya, Salah Asuhan, Sengsara Membawa Nikmat yang tidak jauh dari nuansa romanika perjodohan pada masanya; lalu yang lebih kemudian Cintaku di Kampus Biru, Arjuna Mencari Cinta, sampai Saman. Ada keharuan mendalam di dada ini, Ada emosi terpendam yang tak ter...

LEMBAGA PEMASYARAKATAN TUHAN

Ketika bertemu teman napi di Nusakambangan beberapa tahun lalu, ia bercerita banyak tentang masa senggangnya di pulau khusus permukiman kembali tahanan dari berbagai daerah lain dan berbagai kasus pelanggaran hukum positip yang sudah diputus hakim pengadilan negara. Seperti halnya tokoh Robinhood yang ganteng dari hutan Sherwood, ia dikenal warga sebagai pemuda bertemperamen sosial tinggi. Keprihatinan kampung dalam menghadapi gejolak krisis dihadapinya dengan aliran dana segar yang memberi harapan keluar dari kemelut. Keluarganya termasuk keluarga berkecukupan. Saudara-saudaranya tak ada yang menganggur walau tidak semua bekerja di kantor atau perusahaan. Mereka ini membuka wira usaha sendiri, bahkan merekrut teman sekampung untuk terlibat aktif memperbaiki kesejahteraan hidup ala kampung yang penuh kesibukan. Keuletan kerja mereka tak perlu diragukan, modal dasar mereka sekolahan yang cukup disegani. Apalagi modal dana keuntungan yang berhasil mereka himpun, cukup untuk membiayai sek...

LADANG GANJEN DAN NYEYES

Pertama kali menginjakkan kaki di kota pempek, Palembang, tahun 1992 (walaupun sebelumnya lewat aja karena terus kerja ke Pulau Bangka) saya cari info di media lokal bernama Sripo alias Sriwijaya Post, grup koran kelompok Kompas Gramedia. Pada salah satu rubrik khasnya tertera gaya karikatur yang menampilkan tokoh keluarga ayam(chicken) berbadan telanjang dan kepala plontos. Itulah awal perkenalan saya pada 'Ayam Nyenyes dan kosa kata Ganjen'. Dua kata produk Sumsel ini kemudian berbaur dengan kehidupan saya sehari-hari ketika bertemu dengan orang-orang di kota ini. Beberapa kali juga saya sempatkan berkeliling ke lorong-lorong kampung dengan naik sepeda onthel sambil berolahraga sore atau saat waktu senggang saja. Hasilnya luar biasa. Ada gayung bersambut, ada dulmuluk, ada dulsawan, ada telok abang, ada perahu ketek, ada pempek lenjer sampai pempek kapal selam, ada bujang gadis, ada perahu bidar, ada tari tanggai, ada makam bagus kuning, kawah tengkurep, bukit siguntang, kamb...

MENDEKATI AKHIR BULAN

Masa kanak-kanak tidak kita sadari kalau ekonomi keluarga itu pasang surut dalam pengelolaan anggaran. Orang-orang dewasa yang sudah bekerja baik tetap maupun tidak tetap akan mendapat upah yang harus dibagi-bagi untuk anggota keluarganya sampai pemerolehan dana tetap berikutnya. Beruntunglah kalau di sana-sini ada tambahan penghasilan yang bisa dipertanggungjawabkan asal-usulnya. Almarhum ayahku, dulu seorang PNS golongan IId sampai beliau meninggal, dan pensiun sebelum meninggal untuk beberapa tahun terakhir. Sampai sekarang uang pensiun diterima oleh ibuku untuk bertahan hidup di kota kelahiran Jogyakarta. Dengan delapan anak, orang tuaku mencoba bertanggung jawab penuh terhadap pertumbuhan fisik dan perkembangan intelektual, bahkan spiritualitas keluarga. Tak peduli timingnya tepat atau tidak, anak-anak selalu meminta terpenuhinya kebutuhan sesaat yang mendesak untuk dikabulkan saat itu juga. Belum terpikir bahwa kantong orang tua bisa kempes bahkan kosong melompong, padahal hidup ...