Langsung ke konten utama

MANGKRAK

     Hari-hari seperti cerita yang tak kunjung selesai untuk dipahami.

     Matahari membangunkan kegelisahan dan gelap malam menidurkan pohon-pohon kehidupan. Listrik menyalakan energi sengatan kerja, sedang udara memompakan paru-paru harapan untuk hidup lebih lama bagi makhluk siapapun mereka.

     Gugusan pulau semakin padat penghuni, tak terhitung pertumbuhan hidup dan mati. Hujan panas menyatukan tekad untuk bertahan, mengolah sandang, papan, dan pangan untuk generasi ke generasi, menyikapi tradisi, menyiasati keterbatasan, dan mewujudkan impian untuk memperbaiki keadaan.

     Alam dan lingkunganmengajarkan peradaban awal. Saat terik matahari kegairahan mengolah raga, pikiran, dan rohani. Sementara gelap menyembunyikan lelah. Begitulah cuaca dikenali, dipahami, dan dijalani, menjadi keteraturan. Musim-musim pengembaraan yang panjang, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, membuka jalan setapak, menemukan persinggahan. Orang dilahirkan dan disusui, dimandikan dan diberi makan dalam kehangatan kasih sayang dan lindungan dari segala ancaman.

     Burung-burung berkicauan, beterbangan membumbung ke awan-awan, melintasi langit, bukit gunung dan lembahnya, daratan dan mengarungi samudera raya. Hinggap di ranting dahan sejenak bercengkerama, membangun sarang , bertelur dan mengerami telur-telur, menungu kiriman logistik dan diam bertapa penuh harap sebanyak hitungan telur yang akan menetas nantinya.

     Kemudian hukum alam menyeleksinya diam-diam. Yang kuat akan menikmati usia senja dan yang lemah akan pensiun dini tanpa pesangon, penghormatan yang layak serta kubur seadanya. Bangkainya akan tersangkut di semak belukar atau jatuh berkeping ditiup angin sampai ke dasar jurang. Sukmanya bahkan akan mengembara ke negeri-negeri jauh lintas benua bagaimanapun caranya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAWURAN

Amarah yang bertingkat-tingkat, dendam yang menumpuk seperti api dalam sekam. Secara lahir kadang tidak menunjukkan gelagat patut dicurigai. Semua berjalan seperti biasa, mengalir, lancar, tanpa gesekan. Lalu tiba-tiba gelombang pasang tsunami menggelegak di jalan-jalan, hujan batu, desing parang, pentungan dan ceceran darah manusia tak terbendung lagi. Begitu sering terjadi, begitu mudah tersulut, hanya persoalan yang semestinya dapat diselesaikan tanpa kerusakan dan kerugian lebih besar. Energi terbesar manusia untuk merekonstruksi peradaban menjadi mosaik relief yang berkualitas yang bisa diwariskan kepada generasi penonton dan generasi penyambung garis keturunan seyogyanya ditunukkan gambar hidup yang enak dinikmati sambil makan dan minum di teras rumah, di halaman sekolah, dan di sepanjang panggung kehidupan. Energi destruktif tak pernah berbuah menyenangkan untuk segala generasi. Hanya memumpuk puing-puing dan fosil nestapa yang bila diceritakan kembali dalam gambar memori realis...

RIAK KECIL GELOMBANG BESAR

RASA INGIN TAHU YANG BESAR adalah salah satu sikap ilmiah.      Mau tahu sedikit atau banyak itu pilihan. Daya tarik magnet selalu berada pada dua kutub yang berbeda. Kesadaran akan eksistensi dan hakikat seharusnya menjadikan pola pikir terbuka bahwa perbedaan itu salah satu dalil tak terbantahkan oleh akal sehat manusia. Tingkat-tingkat kecerdasan itu melekat pada diri setiap insan. Bahwa ada kesamaam di antaranya juga bukan suatu kebetulan seperti yang sering ditulis dalam cerita sinetron di tv.      Tingkat kecerdasan dasar dimulai sejak dalam kandungan ibu, maka rahim ibu diinisiasikan sebagai sekolah kehidupan -- PAUD masa pranatal . Tingkat kecerdasan lanjutan pertama berlaku sejak 'terlahir' keluar dari persembunyian rahim ibu ( pascanatal) . Proses keluar dari persembunyian rahim tentu saja melalui persalinan. ada persalinan normal, lancr; ada persalinan 'istimewa'. Secara umum persalinan setelah usia matang kandungan 9 bulan 10 hari...

LADANG GANJEN DAN NYEYES

Pertama kali menginjakkan kaki di kota pempek, Palembang, tahun 1992 (walaupun sebelumnya lewat aja karena terus kerja ke Pulau Bangka) saya cari info di media lokal bernama Sripo alias Sriwijaya Post, grup koran kelompok Kompas Gramedia. Pada salah satu rubrik khasnya tertera gaya karikatur yang menampilkan tokoh keluarga ayam(chicken) berbadan telanjang dan kepala plontos. Itulah awal perkenalan saya pada 'Ayam Nyenyes dan kosa kata Ganjen'. Dua kata produk Sumsel ini kemudian berbaur dengan kehidupan saya sehari-hari ketika bertemu dengan orang-orang di kota ini. Beberapa kali juga saya sempatkan berkeliling ke lorong-lorong kampung dengan naik sepeda onthel sambil berolahraga sore atau saat waktu senggang saja. Hasilnya luar biasa. Ada gayung bersambut, ada dulmuluk, ada dulsawan, ada telok abang, ada perahu ketek, ada pempek lenjer sampai pempek kapal selam, ada bujang gadis, ada perahu bidar, ada tari tanggai, ada makam bagus kuning, kawah tengkurep, bukit siguntang, kamb...