Langsung ke konten utama

Postingan

EPISODE WAYANG: BABAT ALAS WANAMARTA

Prolog: Meski dalam lakon tidak tampil, tokoh wayang Gatotkaca dipilih sang dalang untuk menandai dimulainya pertunjukan wayang ini. Barangkali karena kerajaan Pringgadani, asal tokoh idola ini jago terbang. Resume: Masa kanak-kanak dan pertumbuhan keluarga Pandawa sangat berpengaruh pada pembentukan karakter masing-masing pribadi Puntadewa, Permadi, Bratasena, Nakula, dan Sadewa. Hidup nomaden dalam penyamaran dan pembuangan dari kerabat sendiri sungguh menempa urat nadi kehidupan pewaris tahta Pandu. Untuk mendirikan wilayah kerajaan Amarta, Bratasena harus bekerja keras membuka hutan Wanamarta yang ternyata menjadi bagian kerajaan Indraprastha dan sarang para makhluk halus penunggu hutan. Di luar itu ternyata Arimbi, adik raja Arimba dan Brajadenta dari Pringgadani, mencari jodohnya dalam mimpi ke hutan Wanamarta. Kedigdayaan pasukan lelembut tak berhasil dijinakkan tanpa bantuan pelindung Pandawa, sang Punakawan: Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Sialnya, mantra ajian Puntadewa y...

BUKAN ORANG CERDAS

Banyak orang mengaku pintar, memiliki segudang ilmu kanuragan, manajemen ketrampilan linuwih; namun tidak membina olah rasa batin, etika, moral yang cerdas. Sebagian besar sistem hidupnya diperhitungkan oleh kebijakan untung rugi. pertambahan modal, tingkat kesejahteraan, investasi jangka panjang dengan risiko minimal, dan popularitas. Banyak orang mengaku berkekurangan walaupun memiliki jabatan, rumah dengan halaman besar, penghasilan pokok dan seseran berjalan seimbang, keseharian hidupnya serba dilayani oleh orang lain sampai tak ada waktu untuk berbagi rizki dengan orang yang lebih menderita di sekitar pekarangannya. Warisan atau pembudidayaan tata ruang hidup sering menggoda diri kita sendiri untuk berpaling pada mentalitas keserakahan berkelanjutan. Dalam kondisi memungkinkan, tanpa pandang bulu, orang berani secara terang-terangan mendemonstrasikan keberaniannya dengan kata-kata bahasa terseleksi di kerongkongan mengatakan dengan lantang: "Tak ada yang benar dan sempurna di...

PARTIKEL BAHASA CYBER, DKK.

Sampai hari ini, Minggu, 21 Februari 2010, pukul 22.14, saya masih menulis di blog yang saya anggap jujur ini. Banyak orang dengan latar bervariasi telah, sedang, dan akan terus menulis menghiasi dunia cyber sejak dikembangkan sebagai media komunikasi global dan gratis lagi. Pertanyaan yang muncul di kepala saya saat ini adalah: "Sudah berapa banyak jiwa jika disensus data penduduk dunia manusia yang telah menulis, menggambar, menyebar virus, memanfaatkan, bahkan mengembangkan tanpa henti demi kemajuan teknologi informasi ini?" Saya tak hendak menjawab sendiri, karena tak cukup mampu untuk mengumpulkan data. Saya sadar akan keterbatasan pemahaman sistem apalagi mekanisme prosedural yang berlisensi 'master' pun akan berbenturan dengan regulasi layanan jaringan. Jadi, saya akan menjelajahi ruang yang mampu saya kenali pola frekuensi kemunculannya, sepanjang ada dukungan waktu jelajah 'murah meriah' ini. Orang-orang yang memiliki akses dengan dukungan finansial ...

HIDUP ATAU MATI

Pemeo itu sangat heroik saat perjuangan bangsa saya untuk memperoleh kemerdekaan. Terbukti ampuh untuk membakar semangat tempur 'gerilya' rakyat bersama laskar muda bambu runcing, parang, tombak, dan senjata pampasan untuk memukul mundur dari garis demarkasi dan memilih gencatan senjata, jam malam, patroli konvoi, lalu serangan udara memporakporandakan strategi manual pejuang bersembunyi total. Ketika periode merdeka berkembang biak dari pemilu ke pemilu, presiden ke presiden berikutnya, pemeo itu bergeser ke wilayah 'kekuasaan' dan wilayah 'rakyat', serta 'pemilik modal'. Adu visi, misi, sampai strategi tender seperti iklan berjalan yang kuat etika bisnisnya: menjual dan membeli, untung dan rugi, hutang dan piutang, peluang dan risiko. Semua berujung pada hukum kemakmuran dan kesejahteraan standar manjerial: planning, organizing, controlling, and evaluation. Dengan pendekatan selalu meng-update ilmu baru dan penyeleksian sesuai kebutuhan diharapkan mene...

MUTIARA TANAH LEMPUNG

Balutan lumpur di kaki masih terasa dingin pada subuh ini, karena orang-orang biasa bangun ketika fajar belum merekah. Dengan sedikit gumam dan desah nafas, kaki harus berjalan menelusuri pematang sawah di ujung desa. Beberapa lampu di tikungan jalan kampung masih menyala, sisanya disamarkan oleh pucuk daun bergoyang memburu angin. Alas kaki tak lagi dibutuhkan karena menapak ke permukaan tanah gembur lebih nikmat terasa di pori-pori, apalagi kalau semut menjepitkan moncongnya dengan kesal pada salah satu bagian kulit paling ideal untuk digigit. Ujung-ujung daun rumput tajam kadang menggores dengan santai ke mana ia mau. Dan ketika sapuan air mengenai luka, seperti sepasukan semut ganas menggigit bersamaan pada tempat gigitan yang sama. Tapi tanah tetap digali, tanah tetap dicangkul. Hanya dengan begitu, lahan siap untuk proses pengolahan masa tanam selanjtunya. Begitulah keseharian para pekerja alam pertanian berkumandang tak henti, tak jemu, dan kembali esok hari pada jam dan tempat ...

MUSIM HUJAN

Aha, bulan Desember benar-benar dihujani air dari langit. Setelah sekian lama hujan tak sesuai musim datangnya di beberapa tempat di Indonesua, beberapa hari ini air melimpah tercurah. Pertanda apakah ini? Ya, kalau memang mau turun hujan ya sebaiknya mudah diperkirakan pergerakannya sehingga orang kembali percaya peribahasa: Sedia payung sebelum hujan. Kelimpahan hujan bisa kita terima dengan berbasah-basah ria, bukan kepalang basah. Semestinya ramalan cuaca kembali dibaca dan dipertimbangkan kepentingannya. Terima kasih para pemerhati cuaca, tugas layanan Anda sangat bermanfaat bagi kami pejalan hujan. Terima kasih Saudara Pawang yang selalu mencermati arah angin yang membawa awan berpotensi hujan di jalan. Ritualmu semakin menguatkan kami bahwa keseimbangan atau keharmonisan semesta menjadi bagian hidup, tatanan, dan perubahan waktu. Bagiku, musim hujan tak usah ditolak karena orang semakin disadarkan akan kedewasaan menerima hujan meski harus menggerutu ketika memakan waktu kita te...

TAWURAN

Amarah yang bertingkat-tingkat, dendam yang menumpuk seperti api dalam sekam. Secara lahir kadang tidak menunjukkan gelagat patut dicurigai. Semua berjalan seperti biasa, mengalir, lancar, tanpa gesekan. Lalu tiba-tiba gelombang pasang tsunami menggelegak di jalan-jalan, hujan batu, desing parang, pentungan dan ceceran darah manusia tak terbendung lagi. Begitu sering terjadi, begitu mudah tersulut, hanya persoalan yang semestinya dapat diselesaikan tanpa kerusakan dan kerugian lebih besar. Energi terbesar manusia untuk merekonstruksi peradaban menjadi mosaik relief yang berkualitas yang bisa diwariskan kepada generasi penonton dan generasi penyambung garis keturunan seyogyanya ditunukkan gambar hidup yang enak dinikmati sambil makan dan minum di teras rumah, di halaman sekolah, dan di sepanjang panggung kehidupan. Energi destruktif tak pernah berbuah menyenangkan untuk segala generasi. Hanya memumpuk puing-puing dan fosil nestapa yang bila diceritakan kembali dalam gambar memori realis...