Langsung ke konten utama

MENYENANGKAN - MENYEDIHKAN atau MEMBAHAGIAKAN - MEMBAHAYAKAN

Suka dan duka memang berpasangan sebagai kata berlawanan makna. Dalam hidup manusia sehari-hari perubahan itu begitu terasa bedanya. Suka ada perasaan senang dengan berbagai alasan, duka ada perasaan sedih dengan alasannya sendiri. Ketika suka itu berulang dalam waktu sesaat atau relatif lama, rasa senang itu menjadi menyenangkan hati pemiliknya. Wajah yang bersinar, mata yang berbinar, laku hidup yang menyenangkan dialami untuk sendiri maupun bersama yang lain.

Namun, ketika duka itu menghampiri baik sesaat apalagi lama, terasa ada yang tiba-tiba mengganggu kenyamanan, ada yang mengusik daya-daya manusia kita dalam menjalani hidup keseharian. Rasa sedih,  kecewa, gagal, terusik, dan rasa-rasa kegalauan tak diharapkan. Efeknya sangat luas. Sakit tanpa sebab yang jelas. jengkel dan marah-marah pada situasi yang dihadapi. Kehilangan selera, gairah makan dan beraktivitas lainnya.

Harapan manusia hidup yang membahagiakan bisa bergeser ke bentuk tragedi yang menyeret energi-energi positif menuju energi negatif, mudah tersinggung, pengendalian kesabaran sampai pada batas toleransi, menggeser nilai-nilai alamiah keselarasan. Kebahagiaan yang kita perjuangkan terkikis oleh kebuntuan berasa, bernalar, bertindak, dan berinteraksi dengan norma-norma, tradisi, habitus, dan sederet tata nilai manusiawi, duniawi, ragawi, rohani.

Bahagia sampai pada rambu bahaya. Keutamaan-keutamaan, keunggulan-keunggulan potensi diri menjadi termangu di persimpangan tanda bahaya. Sulit dipahami, meneror kesabaran, dan merusak sendi-sendi hidup yang telah lama dibangun. Sebelum putus asa, jalan keluar doa menjadi pintu ajaib yang patut diyakini kekuatannya berasal dari daya roh. Iman yang diandalkan jadi palang terakhir yang diharapkan mampu mengatasi kelemahan ragawi manusia individu yang dengan mudah terpikat pada penglihatan, perasaan, pendengaran, penciuman, dan perabaan.

Iman itu juga yang dapat menjadi rumah hati segala harapan bermuara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RIAK KECIL GELOMBANG BESAR

RASA INGIN TAHU YANG BESAR adalah salah satu sikap ilmiah.      Mau tahu sedikit atau banyak itu pilihan. Daya tarik magnet selalu berada pada dua kutub yang berbeda. Kesadaran akan eksistensi dan hakikat seharusnya menjadikan pola pikir terbuka bahwa perbedaan itu salah satu dalil tak terbantahkan oleh akal sehat manusia. Tingkat-tingkat kecerdasan itu melekat pada diri setiap insan. Bahwa ada kesamaam di antaranya juga bukan suatu kebetulan seperti yang sering ditulis dalam cerita sinetron di tv.      Tingkat kecerdasan dasar dimulai sejak dalam kandungan ibu, maka rahim ibu diinisiasikan sebagai sekolah kehidupan -- PAUD masa pranatal . Tingkat kecerdasan lanjutan pertama berlaku sejak 'terlahir' keluar dari persembunyian rahim ibu ( pascanatal) . Proses keluar dari persembunyian rahim tentu saja melalui persalinan. ada persalinan normal, lancr; ada persalinan 'istimewa'. Secara umum persalinan setelah usia matang kandungan 9 bulan 10 hari...

POLITIK: POLI YANG ITIK-ITIK

Pol suguhan tayangan televisi di rumah-rumah yang suka mengisi hari-harinya di rumah rakyat. Ada rakyat yang sungguh-sungguh rakyat yang punya rumah, namun ada pula rakyat yang belum sungguh-sunguh tidak punya rumah kecuali alas tidur dan ruang hidup sederhana. Jadi rakyat ada yang sudah menikmati kemerdekaan tetapi ada juga yang belum merasakan kemerdekaan dalam situasi yang real. Itik adalah salah satu jenis hewan berkaki dua, bersayap, berleher jenjang, dan suka berbaris rapi. Kwek-kwek menjadi ciri khas paduan suaranya saat gembira, sedih, mengigau, bermimpi, terancam, tapi juga berakting. Karena keahliannya itu, ia tampil dalam film-film kartun yang melegenda di televisi. PolItik menjadi sajian media dan menu pembuka diskusi di warung-warung, ruang kerja, pasar modal, pasar tradisional, atriumn mall, rumah sakit, dan tempat-tempat umum lainnya. Tidak terbatas persoalan dalam negeri, tetapi juga persoalan luar negeri. Tentu saja rakyat yang melek PolItik lebih tahu strategi con...

CERITA YANG MEMANG MELAYU

Alkisah negeriku berangkat dari kesadaran warganya untuk merdeka dari belenggu penjajah, keterbelakangan, kemiskinan, dan kesederhanaan peradaban. Sebagian warga menikmati tinggal di dataran rendah sebagai bagian dari aliran sungai dan bekas letusan gunung berapi yang terkenal mampu menyuburkan lapisan tanah. Petak-petak tanah mereka olah dan sekat untuk usaha mempertahankan kelangsungan hidup: tempat tinggal, tempat bermain, berkebun, dan tentu saja membuang sampah. Pertemuan antarmereka membuat suasana menjadi lebih ramai, penuh dinamika hidup, termasuk konflik, dendam, tipu muslihat yang memuncak pada curiga, menuduh, fitnah dan amarah. (Prolog lain seperti dalang dalam kisah pewayangan saja) Ternyata, panorama lembah, hutan, gunung, sungai, bersama-sama bertepi di pantai laut yang berbeda jarak dan kedalamannya. Itulah persoalannya. Orang tidak mudah betah tinggal di tempatnya sendiri. Mata dan kaki cenderung ingin bergerak melihat tempat-tempat lain yang menggoda. Timbul niat ingi...